Retno Iswandari
mencatat anak-anak waktu
Monday, March 12, 2012
Kota yang Marah (2)
Senin subuh, riuh lalu lintas menembus jendela para pendatang. Aku mencium aroma embun di lantai dua, sementara Gayatri berbicara sekian kali lewat rekaman, untuk mengakrabkanku pada cara Indian berbicara. Tapi kenyataannya begitu lain ketika kelak seorang petugas mulai mengajukan pertanyaan. Aksen Gayatri tak lagi seperti Indian-English kebanyakan. Aku berkemas-kemas untuk hari yang berharga.
Langit dingin benderang, orang-orang lalu-lalang mencari sarapan. Lima menit menunggu, ojek yang dipesan datang. Begitu handal ia takhlukkan lalu lintas yang sinting. Bagaimana bisa orang hidup sehat dengan jalan dan volume kendaraan seperti itu. Beberapa kali aku melirik spion untuk melihat seperti apa bentuk kelopak mata yang terkantuk-kantuk dalam kemacetan. Juga melirik para penumpang angkot yang ternyata sedang memandangiku. Berusaha kurogoh-rogoh kantung tas demi menemukan sebatang permen. Jalan menuju Kuningan sepanjang satu setengah jam.
Pintu berlapis itu pun dibuka. Sebuah bangunan tua yang dingin dan lembap. Seorang penyapu yang terlalu konsentrasi pada serakan daun sehingga aku enggan menanyakan letak ruang. Tapi kumasuki juga ruang remang yang lebih mirip gedung teater ketimbang tempat ujian. Seorang petugas tanpa bibir melengkung di wajahnya, dua jam yang beku. Pada jam istirahat bersama dua perempuan yang ternyata berasal dari fakultas yang sama, aku keluar mencari makan sambil bercanda tentang materi ujian: apa sinonim kata ‘vulgar’? Di persimpangan itu kami menemukan mie ayam yang rasanya mirip dengan yang dijual di depan SMA-ku, mulai dari tekstur mie-nya, sampai pangsit basah dan potongan ayamnya. Ternyata memang berasal dari daerah yang sama, dan kami pun berbicara dalam bahasa ibu kami. Berapa banyak pedagang kaki lima di sini yang berasal dari “Jawa”?
Pada termin kedua, satu per satu kami di-interview. Dan kami mesti sungguh-sungguh menyimak dan memperhatikan gerak mulut petugas itu karena bahasanya yang cepat dan pronunciation-nya yang khas. “Your name is Retno. Any idea about the meaning of retno?”. Itu pertanyaan pertama yang tak kusangka diajukan. “Jewel!” jawabku. Lalu kami justru berbicara soal nama. Aku teringat novel sekaligus film India berjudul The Namesake.
Pukul empat sore kutunggu bus di depan kedutaan. Kusiap-siapkan diri untuk meloncat ke dalam kendaraan yang memang tak sungguh-sungguh berhenti itu. Dan kali ini berusaha lebih kunikmati perjalananku. Turun di Terminal dan menyeberang ke Stasiun demi memperpanjang tiket kepulangan, sehingga selepas magrib masih dapat kunikmati segelas coffee-shake sampai hujan tinggal gerimis. Kota ini memancarkan aura lain sehingga memaksaku untuk lebih waspada. Tapi di sana masih ada cinta sehingga lorong-lorong malam itu mengingatkanku pada film Before Sunrise. Payung kami yang tak terlalu lebar membuatku berpikir bahwa sesuatu yang terbatas akan tetap cukup jika dihayati bersama. Ya, di sana, di bawah payung itu masih ada cinta terutama saat seseorang menyisipkan pesan bahwa aku mesti hidup kuat dengan atau tanpanya.
Angkot yang ditunggu muncul. Kami menjadi penumpang pertamanya. Berhenti agak lama tanpa mendapat tambahan penumpang membuat sopir terpaksa meninggalkan terminal. Dalam perjalanan itu berkali-kali angkot kami berhenti sekalipun tak disuruh. Bahkan di depan traffic light selama hampir satu jam demi menunggu penumpang yang tak pasti. Jengkel karena waktu kami dirugikan semena-mena, aku berusaha menikmati bangunan-bangunan hotel di sekitar sampai akhirnya angkot itu penuh dan tancap gas dengan kecepatan ekstra. Hari berikutnya aku akan berpikir tujuh kali untuk naik kendaraan yang sama pada malam hari.
Rasa letih dan kantuk sedikit terobati di sebuah warung kopi ciamik di Kemang. Tidak luas tapi cukup leluasa. Seperti memasuki dapur dan singgah di meja makan keluarga. Cafe mungil yang menampung beragam tamu. Mereka bebas melakukan apa yang diinginkan dan mengutarakan apa yang disukai. Dan cerita-cerita pun rajut-merajut hingga pagi. ...and I don’t wanna miss a thing...
Kota yang Marah (1)
Bocah enam tahun itu mengulurkan amplop kosongnya ke mejaku, lalu mengambil mangkok soto sisa di sampingku.
“Eh, mau diapain itu?” teriak si penjual soto.
“Dimakan, Bang, laper.” Jawab si bocah yang mengenakan rok kuning. Ia taruh lagi mangkok yang tadi hendak dibawanya keluar, lalu memanggil kedua temannya yang seumuran. Bertiga mereka santap soto separo itu bergantian, dengan begitu lahapnya. Peluit kereta melengking panjang.
Aku diam mendengarkan percakapan mereka yang lancar, tentang kejadian-kejadian yang mereka saksikan. Mereka tidak memasang tampang melas sama sekali, tapi berusaha meyakinkan bahwa mereka perlu uang. Mereka juga tidak berterima kasih dengan sedu sedan.
Mungkin anak itu salah satu penghuni tenda-tenda yang kulewati saat kereta hampir berhenti. Mesti kusebut apa: tenda, gubuk, rumah? Mereka mendirikannya di pinggir rel, berjajar menempel pagar. Tapi mereka bukan berkemah, sayang, mereka tinggal, makan, berteduh, bercinta, dan membesarkan anak-anak di sana. Dari mana asal mereka? Kampung? Kenapa tak pulang saja ke kampung? Sementara bapak kita cuma turut berprihatin.
Lalu ia datang menjemputku. Naik bus yang kernetnya perempuan bersuara lantang, melebihi pemain teater. Tapi bukan sandiwara bahwa bus itu menyalakan klakson ratusan kali. Dan aku memilih memegangi jantungku ketimbang terpana melihat gedung-gedung tinggi.
Sebelum sampai stasiun Cikini, seorang anak menangis karena tertabrak motor. Tak ada yang tampak begitu heran, kami lewat begitu saja, seperti memaklumi. Bus berhenti, sebenarnya tidak sungguh-sungguh berhenti. Dan selembar tiket untuk sampai ke Depok, ke sebuah pemberhentian kereta yang tepat berada di pinggir kampus.
Baru sekali kudapati orang-orang bersekolah di dalam hutan. Melewati rimbun pohon-pohon, kandang kijang, dan sepetak danau. Tempat berteduh dari kemarahan. Tapi jelas tak ada seorang tarzan, karena orang-orang mengenakan baju rapi yang barangkali dibeli di sebuah mall yang sempat kukunjungi kemudian hari. Kami menyeberang, dengan filosofi berani mati. Melewati gang mahasiswa yang ramai oleh orkes dangdut dari tenda pernikahan. Sebuah acara mengagumkan dengan souvenir pin sepakbola-nya. Dan senja pun tiba dengan aroma hujan reda. Waktu terasa lebih cepat, memadat, selagi kita bercakap-cakap. ...
Thursday, October 13, 2011
Perempuan-Perempuan Haremku: Membongkar Stereotipe Barat
Dalam salah satu bagian novel Perempuan-Perempuan Haremku ini, “Syahrazad, Sang Raja, dan Kata-Kata” (Bab 2), Mernissi secara gamblang berkata bahwa dirinya terkejut mendapati beberapa pengamat Barat menganggap Syahrazad sebagai penghibur yang menceritakan kisah dengan kemasan menawan. Padahal bagi Mernissi dan orang-orang di lingkungannya, Syahrazad dianggap sebagai seorang pahlawan perempuan yang pemberani dan pemikir hebat yang menggunakan pengetahuan psikologisnya tentang manusia sebagai strategi untuk berjalan lebih cepat dan melompat lebih tinggi. (...)Baca selengkapnya di:
kebun-makna: Info Buku: Perempuan-Perempuan Haremku
Saturday, November 14, 2009
Mempertanyakan Rumah Sakit Jiwa Lewat Film*)
Kegilaan dan orang gila menjadi tema menarik hingga sekarang sebab masih menyimpan sejumlah pertanyaan yang belum tuntas. Kegilaan memiliki sejarah panjang dengan berbagai pergeseran makna seperti dalam penelitian historis kritis oleh Michel Foucault (History of Madness). Hingga abad ini, masyarakat umum masih menilai kegilaan sebagai sesuatu yang negatif, tidak wajar, dan penderitanya memiliki status lebih rendah dari orang waras. Para ilmuwan psikiatri juga membuat kategori-kategori kegilaan (abnormalitas) ke dalam berbagai macam istilah beserta penjelasannya.
Perilaku gila semakin dilihat sebagai jenis penyakit; konsep penyakit mental pertama kali dimunculkan pada akhir abad ke delapan belas, dan secara tegas dirancang pada abad kesembilan belas. Kegilaan pun menjadi dimediskan - diambil alih oleh profesi medis. Karena kegilaan ini selanjutnya dikenal sebagai penyakit (bukan, seperti sebelumnya, varian dari lemah-pikiran atau sebagai pengaruh setan), maka kegilaan dianggap sebagai sesuatu dimana hanya dokter yang memenuhi syarat lah yang berwenang mengobatinya (Giddens, 1993: 121).
Keilmuan psikiatri berkembang hingga munculnya fenomena rumah sakit jiwa sebagai suatu tempat yang difungsikan untuk menampung dan “menyembuhkan” orang-orang gila atau dianggap gila dengan cara yang sudah dirumuskan. Kemunculan rumah sakit jiwa ini semakin melegitimasi sisi kenegatifan orang gila sehingga mereka perlu disembuhkan dengan cara dikurung atau dipisahkan dari “orang waras” dan lingkungan hidup yang wajar. Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah seperti apa rumah sakit jiwa itu. Bagaimana sistem yang berjalan di dalam rumah yang digunakan untuk menampung dan menyembuhkan orang gila itu?
Beberapa film yang bercerita tentang rumah sakit jiwa atau setidaknya menjadikan rumah sakit jiwa sebagai setting utamanya telah banyak diproduksi, khususnya film-film Barat seperti One Flew Over the Cuckoo's Nest (1975), Girl, Interrupted (2000), Gothika (2003), Insanitarium (2008) Changeling (2008), dan Shutter Island (2010). Di Indonesia sendiri ditemukan dua film yakni Orang-Orang Sinting (1981) dan Beth (2002). Film-film tersebut dapat digunakan sebagai salah satu alternatif menelusuri representasi sistem yang berjalan di rumah sakit jiwa. Dalam kajian film ini akan dipilih tiga film yakni One Flew Over the Cuckoo's Nest (1975) mewakili rumah sakit jiwa laki-laki, Girl, Interrupted (1999) mewakili rumah sakit jiwa perempuan, dan Beth (2002) mewakili rumah sakit jiwa campuran sekaligus rumah sakit jiwa di Indonesia.

Film One Flew Over the Cuckoo's Nest bercerita tentang kisah Randle Patrick McMurphy mulai dari dimasukkan ke rumah sakit jiwa negara khusus laki-laki sampai akhirnya meninggal di sana. Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama ditulis oleh Key Kesey berdasarkan riset terhadap kehidupan rumah sakit jiwa di Menlo Park, California. Film Girl, Interrupted bercerita tentang pengalaman nyata Susanna Keysen mulai dari dimasukkan ke rumah sakit jiwa swasta khusus perempuan sampai akhirnya berhasil keluar dari sana. Film ini juga diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Susanna Keysen berdasarkan pengalaman nyata yang dialaminya selama berada di rumah sakit jiwa. Sementara itu, film Beth bercerita tentang kisah Elizabeth (Beth) dan Pesta, sepasang kekasih yang tidak direstui karna perbedaan kelas, tanpa disengaja dimasukkan ke rumah sakit jiwa campuran yang sama sampai salah satu dari mereka dibawa pulang (Beth).
Pertanyaan pertama sebelum melangkah lebih jauh ke aspek rumah sakit adalah bagaimana para tokoh bisa menjadi penghuni rumah sakit jiwa. McMurphy dinilai suka membuat keonaran dan malas bekerja selama berada di penjara. Sikap-sikap demikian membuat pihak penjara kewalahan dan perlu memindahkannya ke rumah sakit jiwa negara khusus laki-laki. Sementara Susanna dianggap gila akibat usaha bunuh diri dan kebiasaan seksnya yang tak wajar. Susanna divonis mengidap borderline personality disorder. Susanna sendiri mengelak bahwa dirinya pernah berniat bunuh diri. Ia menenggak aspirin untuk mengurangi rasa sakit kepala bukan untuk bunuh diri. Sayangnya, kadar aspirin yang ia konsumsi berlebihan. Susanna juga mengelak bahwa kegemarannya berhubungan seks selama ini bersifat tidak wajar sebab anak-anak seusianya juga melakukan hal yang sama. Sementara itu, Beth dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa karena ayahnya yang berprofesi sebagai jendral tidak ingin ada orang yang tahu bahwa putrinya mengalami gangguan mental, sedangkan Pesta dibawa ke rumah sakit jiwa karena dianggap mengganggu ketenangan selama di tempat rehabilitasi narkoba.
Kasus McMurphy hampir sama dengan kasus Pesta. Keduanya dianggap tidak lagi produktif di dalam penjara dan di tempat rehabilitasi (yang konsepnya pun sebenarnya sejalan dengan penjara), dan sebaliknya justru membuat keributan yang dirasa mengganggu aktivitas di sana. Itulah alasan pertama yang memungkinkan seseorang dinilai gila dan layak dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Sementara itu, kasus Susanna berangkat dari keprihatinan orang tuanya pada kelakuan menyimpang putrinya. Kedua orang tua itu merasa tidak mampu membantu mengatasi permasalahan Susanna sehingga mereka merasa perlu mengalihkannya pada orang lain, dalam hal ini psikiater yang dianggap punya otoritas pada permasalahan psikis. Itulah alasan kedua yang memungkinkan seseorang layak dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Terakhir, mengenai kasus Beth, orang tua juga sangat berperan seperti halnya kasus Susanna. Akan tetapi, dalam kasus Beth aspek yang ditekankan adalah kelas sosial, yakni jabatan ayah Beth sebagai jendral. Kasus ini menegaskan bahwa kegilaan selama ini dinilai sebagai suatu penyakit yang memalukan bahkan semacam aib yang dapat mengganggu “martabat” keluarganya (orang-orang waras) sehingga perlu ditutupi atau dirahasiakan. Hal itulah yang menurut film ini menjadi alasan ketiga yang memungkinkan seseorang dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa.
Dari uraian di atas, dapat ditemukan suatu persamaan mendasar dari sejarah masuknya tokoh-tokoh tersebut ke rumah sakit jiwa yakni keempatnya tidak berangkat atas kehendak sendiri dan perasaan perlu untuk masuk rumah sakit jiwa. Keempatnya adalah korban dari kebingungan orang-orang sekitar atas permasalahan si tokoh dan cara menghadapinya. Masalah tersebut diselesaikan secara sepihak dan pintas dengan mengeluarkan keempat tokoh dari area mereka (orang-orang waras) serta mengirimnya ke area lain yang terpisah yakni sebuah pengurungan bernama rumah sakit jiwa. Posisi orang-orang yang dianggap gila sangat lemah di hadapan orang waras sehingga mereka tidak punya daya. Dari sana terlihat adanya kekuasaan orang-orang yang menamakan dirinya waras terhadap orang-orang yang menjadi masalah dalam hidup mereka. Boleh jadi ada itikad baik untuk memperbaiki keadaan tokoh-tokoh tersebut. Pertanyaannya, benarkah rumah sakit jiwa yang ada selama ini adalah solusi untuk memperbaiki keadaan tokoh-tokoh tersebut? Bagaimana sistem yang berjalan di dalamnya?

Ada berbagai komponen sistem penanganan masalah dalam rumah sakit jiwa yang perlu dipertanyakan. Pertama, pengorganisasian larangan. Larangan muncul karena ada suatu keinginan pasien yang tidak disetujui oleh pihak rumah sakit. Dalam film One Flew Over the Cuckoo's Nest, McMurphy mempunyai keinginan untuk menyaksikan pertandingan bisbol Seri Dunia. Untuk dapat menonton pertandingan bisbol, jadwal yang ada di rumah sakit jiwa perlu diubah. Ia meminta Suster Ratched untuk mengubah jadwal selama pertandingan berlangsung. Suster Ratched tidak mengabulkan hal tersebut dengan berbagai alasan. McMurphy keberatan dan akhirnya diadakanlah voting. Suster Ratched membuat peraturan voting yang sangat merugikan McMurphy. Apapun upaya yang ditempuh McMurphy, semuanya tidak akan berhasil. Kasus dalam film Girl, Interrupted serupa meski tak sama. Salah seorang pasien bernama Polly ketahuan sedang asyik bermain alat musik di luar jam bermain musik. Suster Valerie menegurnya dan menyuruh Polly pergi. Suster mengatakan bahwa Polly tidak boleh bermain musik di luar jam yang telah ditentukan. Dengan kecewa tapi pasrah, Polly pun keluar meninggalkan ruang seni. Dalam film Beth larangan pernah ditampilkan dalam adegan seorang pasien yang suka bermain ketapel. Suster yang memergokinya berusaha menyita ketapel itu tapi pasien tersebut mengelak. Suster pun mengancam dengan mengatakan “sekali lagi kamu merusak, saya bakar kamu!”. Dari kejadian tersebut terlihat bahwa aturan yang digunakan oleh rumah sakit jiwa bersifat tegas, kaku, dan otoriter. Seorang pasien tidak diperbolehkan melakukan apa yang ingin ia lakukan dan mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan jika keduanya berada di luar ketentuan rumah sakit. Sejumlah larangan yang menghambat penyaluran keinginan-keinginan pasien tersebut diterapkan di sana. Pertanyaannya, apakah hal ini membantu memperbaiki keadaan pasien? Posisi pasien semakin tersudut menjadi objek semata sebab tidak punya hak menolak dan memilih. Mereka dikuasai oleh aturan tertentu tanpa memperoleh kebebasannya. Mereka mendapat larangan-larangan yang sering sulit dijelaskan kecuali dengan logika otoritas saja sehingga semakin menguatkan posisi mereka sebagai orang gila yang lemah di hadapan orang waras.
Kedua, model hukuman. Dalam film One Flew Over the Cuckoo's Nest, McMurphy pernah melakukan tindakan melawan aturan Suster Ratched. Awalnya, Cheswick, kawan McMurphy, sangat menginginkan rokoknya tetapi Suster Ratched tidak mengabulkannya. Hal ini membuat Cheswick menjadi histeris dan suasana di ruang itu pun kacau balau. Suster Ratched tetap pada pendiriannya untuk tidak mengabulkan permintaan pasien. Suasana makin tegang dan McMurphy tidak bisa tinggal diam. Ia menyelesaikan masalah tersebut dengan memecah kaca untuk mengambilkan Cheswick rokok. Kejadian itu membuat pihak rumah sakit marah. Perawat laki-laki datang dan memukuli McMurphy. Oleh sebab McMurphy melawan, ia pun dikenai hukuman berupa setruman listrik ke tubuhnya. Dalam film Girl, Interrupted, model penyetruman tubuh ini juga digunakan meski tidak ditayangkan secara langsung –hanya lewat pengakuan Lisa, kawan Susanna. Selain penyetruman, ada model pengurungan yang diperlihatkan dalam film Girl, Interrupted. Tiap kali ada pasien yang histeris, ia disuntik obat penenang dan dikurung sendirian di dalam kamar isolaso. Model hukuman semacam itu tidak ditampilkan dalam film Beth. Memang ada sistem isolasi dan penyuntikan obat dalam film Beth tetapi bukan dalam konteks hukuman. Tokoh Pesta pernah diisolasi karena sebagai penghuni baru dikhawatirkan dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti keributan. Oleh karena itu isolasi digunakan sebagai semacam inisiasi. Akan tetapi ada yang timpang di sini yakni mengapa tokoh Beth tidak diisolasi juga seperti Pesta saat menjadi warga baru? Apakah hanya pasien-pasien tertentu saja yang harus diinisiasi dengan cara isolasi? Kembali pada persoalan hukuman, apakah model-model hukuman tersebut sudah tepat dan manusiawi? Ada dua hal yang tampak sedang diorganisasikan oleh rumah sakit yakni rasa takut dan patuh. Tuke dalam Foucault mengatakan bahwa prinsip ketakutan dipertimbangkan sebagai hal yang sangat penting dalam mengatur pasien-pasien. Dari sana terlihat bahwa pasien diperlakukan sebagaimana anak-anak yang menaati aturan hanya karena rasa takut akan hukuman, bukan karena rasa perlu bagi perkembangan diri mereka.
Ketiga, metode pengobatan. Dalam film One Flew Over the Cuckoo's Nest dan Girl, Interrupted terdapat metode pengobatan yang sama. Teknisnya, pasien dipanggil satu per satu untuk menelan obat tidur/ penenang yang sudah disediakan. McMurphy dan Susanna sebagai penghuni baru sama-sama menolak menelan obat itu. McMurphy berargumen bahwa ia tidak pernah mau menelan obat yang tak diketahuinya, dan ia juga tidak suka obat penenang, sedangkan Susanna berargumen bahwa ia belum merasa ingin tidur sebab malam masih terlalu dini. Alhasil, apapun argumen yang mereka ajukan, pihak rumah sakit tetap tidak akan mengubah aturan. Keduanya harus tetap menelan obat. Metode semacam ini tidak ditampilkan dalam film Beth. Sebaliknya, pengobatan yang ditampilkan adalah pengobatan pada Pesta dengan cara mendatangi pasien di kamarnya dan membantunya menelan obat atau menyuntikan obat. Ada adegan lain yang menarik diperlihatkan dalam film Girl, Interrupted yakni seringnya pasien mengelabuhi perawat. Diam-diam mereka tidak menelan obat tersebut tapi hanya menyembunyikannya di bawah lidah. Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah para pasien tidak percaya akan kemanjuran obat-obatan itu dalam penyelesaian masalah mereka? Apakah tindakan memaksa pasien untuk tidur sesuai jam yang ditentukan dengan cara memberikan obat tidur merupakan cara yang sehat dan mendukung penyembuhan? Tidak adakah cara lain untuk mendorong pasien beristirahat tanpa obat tidur? Fenomena penolakan obat itu menyimbolkan adanya suatu pemberontakan secara tersembunyi yang dilakukan oleh pasien terhadap sistem pengobatan di rumah sakit jiwa.
Keempat, metode pengoreksian. Metode pengoreksian yang ditampilkan dalam film One Flew Over the Cuckoo's Nest, Girl, Interrupted, dan Beth berbeda. Dalam film pertama, pengoreksian dilakukan secara berkelompok. Para pasien dikumpulkan dalam satu ruang, lalu Suster Ratched mengemukakan masalah pribadi pasien di depan kelompok itu. Satu per satu anggota kelompok itu dimintai pendapat atas permasalahan yang dialami temannya. Sedangkan dalam film kedua, pengoreksian dilakukan secara individu, antara dokter dan pasien saja. Dokter menanyakan permasalahan yang dihadapi oleh pasien dalam ruangan khusus lalu memberi penilaian atas progres pasien tersebut. Lain lagi dalam film ketiga yang ditampilkan lewat adegan pengoreksian terhadap masalah pasien bernama Arif. Pasien itu dibawa ke ruang khusus dan ditanyai oleh dua dokter secara bergantian dan dijaga ketat oleh dua pengawal lainnya. Meski berbeda, metode pengoreksian dalam film Beth lebih dekat dengan metode dalam film Girl, Interrupted. Manakah metode pengoreksian yang tampak lebih unggul? Masing-masing metode tidak lepas dari kelemahan. Akan tetapi, metode pengoreksian yang digunakan secara indivial dalam film Girl, Interrupted dan Beth tampak lebih baik daripada dalam film One Flew Over the Cuckoo's Nest. Hal ini dikarenakan metode pengoreksian secara berkelompok ternyata lebih menekan dan menjatuhkan mental pasien. Permasalahan pribadi yang memalukan bagi orang waras saja, misalnya, tidak pantas dibicarakan di depan umum. Lebih-lebih pasien sebagai orang yang mengalami gangguan mental semestinya perlu diberikan perlindungan dan rasa aman yang lebih besar. Mengapa metode semacam itu digunakan? Lain halnya dengan metode pengoreksian secara individu, permasalahan pribadi pasien hanya diketahui oleh si pasien dan dokter sehingga di sana tidak perlu ada rasa rendah diri di hadapan kawan lainnya. Permasalahan yang masih tampak dalam film itu adalah ketegangan antara pasien dan dokter saat wawancara. Dalam ketidaksependapatan antara pasien dan dokter, keduanya ngotot mempertahankan kebenaran masing-masing. Susanna merasa tegang dan tertekan oleh cara dokter menginterogasinya untuk mengakui apa yang di mata dokter salah (abnormal). Sementara itu, Arif yang pada awal pengoreksian berdialog dengan lancar, lama-kelamaan juga merasa tertekan hingga menarik kerah baju dokternya. Dari representasi tersebut, tampaknya perlu format ulang suasana yang lebih cair antara dokter dan pasien sehingga keduanya dapat berinteraksi lebih efektif.
Melalui keempat komponen sistem yang telah diuraikan di atas, dapat dilihat pula hubungan pihak rumah sakit dan pasien. Semua komponen sistem tersebut rupanya menjadi faktor pendorong terjadinya hubungan kurang baik antara dokter dan pasien. Adanya ketidakseimbangan posisi selalu mengakibatkan salah satu pihak merasa dirugikan dan perlu memberontak. Hal inilah yang terjadi dalam film One Flew Over the Cuckoo's Nest dan Girl, Interrupted. Perasaan atas kesamaan nasib sebagai minoritas (kaum tersubordinasi) mengakibatkan para pasien punya rasa solidaritas antarsesama. Dalam film One Flew Over the Cuckoo's Nest nampak McMurphy menjadi komando yang disenangi kawan-kawannya dan dikhawatirkan oleh pihak rumah sakit karena pengaruhnya yang berbahaya. Demikian juga dalam film Girl, Interrupted, Lisa menjadi komando kelompok yang posisinya sama dengan McMurphy. Kedua kelompok itu sering menertawakan dokter atau perawat tanpa sepengetahuan pihak rumah sakit. Dari fakta tersebut nampaklah ironisme hubungan antara pihak rumah sakit dan pasien. Keduanya yang diharapkan memiliki hubungan baik dan saling bekerja sama justru menampakkan jurang pemisah yang dalam. Bagaimana efektivitas kerja untuk memperbaiki keadaan pasien jika hubungan antara keduanya demikian? Lebih parah lagi, akibat perlakuan pihak rumah sakit yang dirasa tidak manusiawi itu, McMurphy (berserta sahabatnya Chief Bromden) dan Lisa (beserta Susanna) bekerjasama untuk melarikan diri. Bukankah hal ini semakin menegaskan kondisi terjajah yang mereka alami?
.jpg)
Pemberontakan yang menonjol dalam dua film tersebut memang tidak ditampilkan dalam film Beth. Akan tetapi, ada hal lain yang diungkap dalam film ini yakni kebejatan moral dokter lelaki di rumah sakit jiwa. Dalam film Beth, ditampilkan adegan pelecehan seksual yang dilakukan oleh dokter kepala (Jeremyas) saat memeriksa kesehatan Beth. Pelecehan semacam ini juga tersirat di awal film saat dokter Jeremyas menegur dokter Karim yang kancing bajunya terbuka saat menggandeng pasien perempuan. Sambil mengerling ke arah dokter Karim dan tubuh perempuan itu, dokter Jeremyas mengatakan “ini harus rapi, jangan terlampau menyolok”. Kasus ini mengingatkan representasi pelecehan seksual serupa oleh pihak rumah sakit jiwa dalam novel Kalatidha karya Seno Gumira Ajidarma (2007). Mengapa dalam rumah sakit jiwa di Indonesia skandal semacam ini ditampilkan?
Pada akhir cerita ketiga film, dapat dilihat cara para tokoh berhasil “bebas” dari rumah sakit jiwa. Kebebasan McMurphy dikisahkan secara tragis. Ia dan Chief Bromden pernah berjanji untuk melarikan diri bersama. Sebelum semuanya terwujud, McMurphy sudah dikenai hukuman penyetruman yang membuatnya tak lagi punya daya. McMurphy seperti mayat hidup yang tidak dapat berkomunikasi seperti semula. Melihat keadaan itu, Chief Bromden sangat prihatin. Dalam keadaan dilematis, ia pun terpaksa membunuh McMurphy dengan cara menindihnya dengan bantal sebagai pilihan terbaik daripada meninggalkannya dalam kondisi ’mayat hidup’ itu. Chief lalu melarikan diri dengan keyakinan bahwa dirinya dan McMurphy telah sama-sama terbebas dari belenggu rumah sakit jiwa. Berbeda dengan kisah tragis itu, terbebasnya Susanna dari Claymore digambarkan secara ironis. Susanna yang selama ini antipati terhadap pihak rumah sakit jiwa akhirnya berbalik arah. Ia berpihak dan menuruti semua aturan di sana. Dengan cara itu, Susanna pun dianggap sembuh dari kegilaannya dan dikeluarkan dari rumah sakit jiwa. Lantas, apa arti sembuh dari kegilaan (bagi pihak rumah sakit jiwa)? Lebih ironis lagi dalam perjalanan pulangnya, Susanna berkata, “Diagnosis terakhirku: penyembuhan dari borderline personality disorder. Yang artinya aku masih tidak tahu.” Ungkapan itu menunjukkan bahwa meski telah berhasil keluar dari rumah sakit jiwa, Susanna tetap tidak mengerti dirinya telah sembuh dari penyakit apa. Sebagaimana semula, ia tetap merasa bahwa dirinya tidak gila, tetapi hanya menjadi salah satu korban dari sistem kehidupan pada masanya.
Lain halnya dengan kedua film tersebut, Beth keluar dari rumah sakit bukan karena faktor dari dalam dirinya sendiri melainkan karena ayah Beth mengetahui bahwa mantan pacar Beth, Pesta, juga dirawat di rumah sakit yang sama. Penyelesaian dari tokoh Pesta sendiri tidak diceritakan, oleh sebab itu tidak dapat disimpulkan tokoh tersebut pernah bebas atau tidak dari rumah sakit jiwa. Keterbebasan lain yang justru menarik dalam film Beth diceritakan lewat tokoh suster Zaenab. Di sana diceritakan bahwa suster tersebut dulunya pernah menjadi pasien di rumah sakit jiwa yang sama. Saat dinyatakan sembuh dan boleh keluar, Zaenab ternyata tidak diterima oleh masyarakat asalnya. Oleh sebab itu, ia merasa lebih baik jika kembali lagi ke rumah sakit jiwa dan mengabdikan diri sebagai suster di sana. Dalam film ini ditunjukkan bahwa rumah sakit jiwa mungkin saja dapat “menyembuhkan” pasien tetapi tidak memberikan pemecahan masalah lebih lanjut ketika pasien telah dinyatakan sembuh. Setelah memasukkan seorang “gila” ke rumah sakit jiwa sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap rumah sakit jiwa, masyarakat ternyata belum bisa menerima konsekuensi untuk menerima kembali orang tersebut saat sudah dinyatakan sembuh oleh pihak yang sebelumnya mereka beri otoritas itu. Ada yang salah di sini dan patut dipertanyakan, sebenarnya apa motivasi masyarakat (orang waras) memasukkan seseorang ke rumah sakit jiwa dan mengapa mereka tidak konsisten terhadap keputusannya sendiri? Hal ini mengingatkan penulis pada pernyataan Scull (1984) via Giddens bahwa 'tidak ada keraguan jika obat dapat bekerja dalam beberapa derajat –bahkan jika tidak ada seorang pun yang tahu dengan jelas mengapa mereka menggunakannya– dalam arti bahwa pengobatan medis itu mengatasi gejala tertentu sekaligus membuat pasien sulit untuk hidup secara efektif dalam masyarakat yang lebih luas'. Dari contoh tersebut, permasalahan lebih lanjut bagi “mantan orang gila” adalah penerimaan dari masyarakat. Atau yang sebenarnya menjadi masalah sejak awal bagi orang gila dan orang waras memang penerimaan itu sendiri?
Dari uraian di atas, menurut film One Flew Over the Cuckoo's Nest, Girl, Interrupted, dan Beth, kegilaan dan sistem rumah sakit jiwa masih menyimpan banyak pertanyaan atas ketimpangannya. Ketimpangan-ketimpangan yang ditampilkan itu memberi wacana bahwa rumah sakit jiwa yang ada belum sepenuhnya ideal sebagai tempat untuk memperbaiki keadaan orang-orang gila atau yang dianggap gila. Banyak koreksi yang tampaknya harus dilakukan untuk membenahi sistem yang diterapkan di dalamnya, sehingga rumah sakit jiwa bukan semata menjadi simbol kekuasaan orang waras terhadap orang gila, melainkan menjadi tempat paling kondusif untuk membantu orang-orang bermasalah menyelesaikan masalahnya secara manusiawi. Lebih dari itu, konsistensi dari masyarakat yang terlanjur memberikan otoritas perihal kegilaan pada rumah sakit jiwa menjadi masalah lebih lanjut. Jika tidak demikian, apa arti kesembuhan bagi seorang pasien jika kemudian tidak juga diterima oleh masyarakatnya?
*) tulisan ini merupakan revisi dari tulisan berjudul sama sebelumnya dengan adanya penambahan data.
Daftar Bacaan
Foucault, Michel. 2006. History of Madness. London & New York: Routledge.
Giddens, Anthony. 1993. Sociology (Second Edition). Britain: Polity Press.
Friday, October 02, 2009
Oktober pun Terbuka dengan Gempa dan Pameran Lukisan Nasirun
OKTOBER
pada bulan oktober
pohon-pohon
membuka daunnya
bagi langit yang cerah
seorang pejalan
mengikuti jejak matahari
di terik yang putih
seekor burung
terbang dari dahan
menuju dunia jauh
kuntum mawar melihat
dengan kelopak
menghadap angkasa
lalu pandanganku
jatuh ke tanah
menangkap bayanganku
yang lembut, gemetar,
dan kelabu
pikiranku kian bersayap
aku pun jadi asing
di tengah indahnya alam
yang wajar
Dan di bawah ini beberapa foto yang menggambarkan momen lain pembuka Oktober itu. Saya bersama kawan yang lama tak bertemu (dan ternyata dia juga si pengarang puisi tadi, hoho..) mengunjungi Sangkring Art Space, sebuah galeri yang terletak di Nitiprayan RT 1 RW 2 No.88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Di sana sedang berlangsung pameran tunggal lukisan Nasirun yang membuat saya tak bisa menyembunyikan decak kagum. Anda boleh mengintip beberapa foto lukisannya di sini tapi saya sarankan untuk segera saja memandangi langsung di Sangkring Art Space karena pamerannya hanya berlangsung sampai 12 Oktober 2009.

[Pak Irun bersepeda di lantai satu Sangkring Art Space]

[Saya ikut mengheningkan cipta]

[Pak Irun, jangan sedih, ini aku jadi makmum..heeeh]

[Langsung terpana di lantai dua, huwaaa...]

[Awas ada "Gathotkaca-mata" yang bisa ngintip dari atap lho!]

[Wayang-wayang itu berkata, "Selamatkan kami, Anak muda berkacamata, hey hey, ya kau!"]
Hmm, campur aduk jadinya, kan...
Thursday, September 24, 2009
tapi aku bukan penyair*
DUA ORANG BERMAIN CATUR
aku melihatmu
pada kuda yang mereka pasang
dengan abjad-abjad lama
kau gambar petak baru
akar-akar gaib dalam kepala
menjalar-jalar di atas hitam-putihmu
mereka mengamatimu
kau menyelinap dengan gurauan
mereka ingin tertawa
lalu kau tertawa
sebab di tanganmu
tak sedikitpun darah tuhan
yang mereka inginkan
2007

(Lukisan: The Chess Player - Honore Daumier)
HIKAYAT MUSIM HUJAN
:Aceh
di kedai pinggir pantaimu
cangkir-cangkir menengadah
layaknya cawan perjamuan
udara jingga naik ke penciuman
bibir mudaku
mengiginkan kecupan dari pantaimu
musim hujan yang hangat
kudekap hikayat pilu di dadamu
kata demi kata berkelana
jika kupunya busur,
akan kupanah jadi doa dan pujian
bagimu, kampung raya
hari-hari hidup dari cerita masa lalu
memberi warna ungu gerimismu
anak-anak bermain di luar sana
aku teringat masa kecil yang sirna
jangkar-jangkar ditarik,
salam hari esok diulurkan
aku teringat dan menghitung usia
musim meneteskan hujan
kita yang asing saling bercermin
kutemukan wajahku di matamu
dan kisahmu melayari wajahku
kita pahatkan hikayat baru
pada kapal kepulanganku
musim hujan yang hangat
2007
RIWAYAT DOSA
ada yang berdayung ke pulau asing
menjauh dari ingatan
mendirikan kota dan sebuah rumah di bawah topi
malam-malam celaka
jari-jari mengetuk di pintunya
mata-mata tumbuh di dinding
tak pernah terpejam
gaduh
layaknya pasukan siap menerkam jantung dan lambung
kota yang gaduh dalam kesendirian
tak ada jeda buat berduka dalam paniknya
ia pun melarikan diri
daun-daun kering jatuh di atas kaki
tanah terasa menyala
kian menyala ke ujung rambutnya
keinginan-keinginan lama terbakar
keinginan-keinginan baru alangkah jauh
ia terus berlari tanpa dikejar
dan terus berlari dengan tubuh terbakar
tanpa api
saat itu,
di tepi pulau itu,
tak ada perahu yang dulu
ataupun yang baru
mimpi-mimpi buruk
hanya akan pergi dan kembali
seperti hantu yang enggan menusuk
tapi tertawa keras dan ujung kukunya selalu menunjuk
ke arah lingkar sebuah topi
2007

(Lukisan: The Church at Auvers - Vincent van Gogh)
KEPADA KATA-KATA
kata-kata yang keluar dari mulutku
ke mana saja pada udara
ingin kubuat rumah dan memanggil kalian
seperti memulangkan hembusan nafas
yang lama mengembara
saat aku berputar, menari,
dan berhenti pada hasrat malam yang megah
engkau yang bersayap
ulurkan tanganmu ke wajahku
tiup nyala mataku,
tiup nyala mataku ke angkasa
dan bentangkan lenganmu di lenganku
dekap gigilku
larikan ke bukit-bukit
kata-kata, seberangkan aku dengan sayapmu
naikkan pada tinggi mabuk firdaus
lalu terjunkan menyentuh neraka
sebab kau kendaraan setia ke mana pun
sekaligus semesta yang membingkaiku
2008
*) dari baris puisi Mahmoud Darwish
Thursday, September 17, 2009
Pare yang Manis dan Sepeda Mini Hijau
Pernah mendengar nama Pare? Apa yang terlintas di benak ketika mendengar nama itu? Pahit kah? Pare kali ini sama sekali lain rasanya. Manis dan membuat kita ingin mencobanya lagi.Ya, kurang lebih setahun lalu saya mencicipi Pare yang manis. Memang, bukan di lidah, tapi lebih dari itu, manisnya sampai di hati (hehe..). Pare manis itu ada di Kediri, Jawa Timur. Sebuah kampung yang memberi tawaran unik bagi saya untuk berlibur.
Awalnya, saat liburan akhir tahun, saya mengirim SMS pada kawan-kawan sekadar menanyakan kabar dan aktivitas. Tak disangka, beberapa dari mereka punya jawaban yang sama: liburan di Pare. Memangnya ada apa di sana, pikir saya. Kabar punya kabar, di Pare kawan-kawan tidak sekadar berlibur, tapi juga belajar bahasa Inggris. Itulah yang membuat Pare dijuluki 'kampung bahasa Inggris'. Kabarnya, antropolog Clifford Geertz juga pernah singgah di kampung ini untuk melakukan penelitian lapangan yang kemudian melahirkan buku The Religion of Java. Mmm, saya pun tertarik mencobanya.
Berangkat dari Jogja, di dalam bus supercepat saya membayangkan Pare seperti Prawirotaman-- kota turis yang ramai dengan cafe-cafe dan penginapannya di Jogja. Bahkan seperti Eropa kecil, sebab sebelumnya saya dengar di Pare orang-orang bercakap dalam bahasa Inggris. Tapi giliran saya bisikkan bayangan itu pada kawan sebelah yang pernah ke Pare, dia tertawa dan bilang "lihat aja nanti, Pare nggak seperti yang kamu bayangkan." Hmmm, makin tak sabar saya untuk sampai di Pare.
Bus supercepat yang saya naiki mampir di sebuah rumah makan Madiun, wah makan pecel ni. Pecel Madiun lain rasanya dengan pecel Jogja, lebih pedas. Lumayan juga buat ganjal perut. Tak lama kemudian kami berangkat lagi menuju Kediri. Setelah turun di dekat terminal, kami naik bus kota, lalu angkot, dan terakhir becak. Wah, agak ribet juga ya gonti-gantinya, maklum kawan yang mengantar saya sudah lama sekali tak ke Kediri. Ternyata bus kota yang kami pilih tadi keliru, hahaha. Tak apa, yang penting akhirnya kami sampai Pare juga. Perjalanan Jogja-Pare kurang lebih tujuh jam.

Sampai Pare, benar ternyata kata kawan saya, tak seperti yang dibayangkan. Pare ternyata sebuah kampung yang sungguh-sungguh kampung. Artinya, saya cuma melihat model yang sama dengan tempat tinggal saya. Awalnya agak kecewa, "yah sama aja di rumah dong!". Berbeda dengan Anda yang biasa tinggal di kota ramai, mungkin akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi saya sudah terlanjur di Pare, mau tak mau, akan tinggal di sini selama satu bulan.
Di sana, kami langsung disambut oleh dua kawan yang sudah sebulan lebih dulu berada di Pare. Tak salah, mereka akhirnya jadi guide kami dalam banyak hal, seperti mencari kos, tempat minum kopi, tempat rental sepeda, dan tempat kursus yang bagus. Karena lelah dan haus, sebelum mencari kos kami beli jus. Setelah menikmati kesegarannya, salah satu dari kami membayarnya dan agak kaget karena harganya begitu murah, seribu satu gelas. Hmmm, alamat hemat ni, batin saya.
Ternyata tak hanya jus saja yang murah, hampir semua yang ditawarkan di sana sangat terjangkau, sejalan dengan lokasinya yang berada di perkampungan. Anda tidak akan mengeluarkan biaya lebih dari 100 ribu untuk menyewa kamar kos selama sebulan. Kecuali Anda memilih pondokan english area yang menyediakan fasilitas kursus di dalamnya, mungkin sedikit lebih mahal. Waktu itu saya memilih tinggal di kos biasa (bukan english area) sebab ingin suasana yang lebih privat dan rileks.
Mencari kosan saat musim libur sekolah di Pare memang tak mudah. Saya terpaksa dititipkan dulu di pondokan english area punya teman perempuan kawan saya di malam pertama. Setelah semalam merasakan suasana pondokan english area, semakin mantaplah saya untuk memilih kos biasa sebab saya belum terbiasa dengan suasana macam "pondok pesantren" begitu dan akan lebih nyaman berada dalam suasana privat. Akan tetapi, buat Anda yang ingin cepat menguasai bahasa Inggris sehari-hari, pondokan english area macam itu memang kondusif dan tepat.
Setelah muter-muter mencari kos yang kosong dan cocok, baru hari ketiga saya dapat, namanya Sanjaya. Konon itu kos paling "mentereng" di Pare, hahaha, mungkin karena fasilitasnya lebih bagus dari kos lain di Pare. Tapi perlu Anda ketahui, sementereng apapun kos di Pare, semuanya sistem berbagi. Satu kamar dihuni tiga orang meski masing-masing dapat satu ranjang. Inilah yang membedakannya dengan pondokan english area yang satu ranjang bisa ditempati dua-tiga orang. Tidak hanya soal ranjang, setrika pun harus berbagi. Hal yang paling menjengkelkan sekaligus menggelikan memang saat membutuhkan setrika. Di Sanjaya, tidak ada tempat setrika khusus, jadi setrikanya pindah dari kamar ke kamar dan lantai ke lantai tergantung siapa yang terakhir menggunakan. Kalau tidak ingin ribet mengetok pintu-pintu tetangga yang belum tentu ada setrika, saya sarankan untuk membawa setrika sendiri. Tapi jangan dikira setrika pribadi cuma dipakai sendiri, pasti ada kalanya setrika itu dipinjam juga oleh tetangga jika sedang antri. Hahaha, benar-benar sistem berbagi bukan?
Oya, ada kejutan menyenangkan sewaktu saya sudah demikian lelah mencari kos. Saat itu, sedari pagi saya tak makan sebab yang ada dalam pikiran cuma mendapat kos. Ternyata lemas juga. Kawan saya langsung menyuruh makan (dia sendiri sedang puasa). Karena belum kenal rumah makan setempat, saya ambil yang paling dekat. Waktu itu bingung juga memilih menu sebab rata-rata saya tak tertarik, hehe.. Tapi karena bingung dan lama itu, saya justru menemukan hal yang tak disangka-sangka. Di depan saya ada seorang perempuan yang sedang memesan makanan. Dari suaranya sepertinya saya pernah dengar. Setelah selesai memesan makanan, dia berbalik dan akan menuju ke meja makan. Saya pandangi dia dan dia juga memandangi saya. Beberapa saat kemudian, setelah adegan pandang-memandang yang cukup menggelikan, di rumah makan itu tiba-tiba terdengar teriakan histeris dua perempuan. Tak salah, saya dan perempuan itulah yang berteriak. Jelas saja, perempuan itu ternyata kawan SMA saya. Kami tak menduga bisa bertemu di Pare. Kami girang dan langsung berpelukan tanpa menghiraukan sekeliling. Namanya Maharani. Kami pernah satu tim debat saat SMA. Dia partner yang cerdas dan menyenangkan. Nah, Maharani jugalah yang meyakinkan saya untuk memilih kos Sanjaya. Akhirnya kami jadi tetangga kos. Maharani di lantai bawah dan saya di lantai atas (meski di pertengahan bulan kami akhirnya satu kamar).
Namun, sebelum menempati kamar kos, saya dapat kesempatan jalan-jalan dulu ke Bali selama tiga hari. Haha, pasti Anda tak menyangka. Di Pare, ada tempat kursus bernama Harvard yang setiap bulan menyelenggarakan test sekaligus wisata ke Bali. Test ini diperuntukkan bagi para peserta kursus speaking. Mereka harus mempraktekkan cuap-cuap bahasa Inggrisnya langsung dengan turis-turis di Bali. Nah, saya sebagai pendatang baru hanya beruntung mendapat kursi yang masih kosong untuk berwisata. Biayanya pun sangat murah (250 ribu untuk semua akomodasi). Menyenangkan bukan?

Sepulang dari Bali, saya langsung menempati kamar kos yang sudah saya pesan. Penyakit "sulit bertetangga" saya kambuh lagi di awal-awal menjadi penghuni baru, hmmm... Maklum, saya pernah punya "pengalaman pahit" selama menjadi penghuni kos baru di Jogja. Saya tak punya teman kos sebab tak punya ketrampilan menggerombol dan menggosip (bahkan fashion! hah!). Nah di Pare, penyakit itu saya coba atasi dengan menggunakan "trik" baru. Saya siapkan toples kecil berisi permen lalu berkenalan sambil menawari isi toples itu. Hahaha, tampak aneh ya? Bagaimana lagi, itulah cara berbasa-basi. Lain waktu mungkin perlu belajar dari Anda soal ketrampilan bertetangga.
Nah, setelah urusan kos beres, saya mulai berpikir tentang alat transportasi. Inilah salah satu keunikan Pare. Di sana, mayoritas pendatang menggunakan sepeda (kayuh). Tentu mereka tidak membawanya dari tempat asal. Di Pare banyak rental yang menyewakan sepeda. Setelah melihat-lihat, saya tertarik dengan sepeda mini warna hijau. Selain sepeda mini punya keranjang depan yang praktis untuk meletakkan berbagai barang, warnanya yang hijau sesuai dengan warna favorit saya. Hmmm, saya pun langsung bisa berkeliling menikmati manisnya Pare dengan menggunakan sepeda mini hijau itu. Perlu diketahui, bersepeda di Pare terasa nyaman dan jauh dari rasa risih terhadap kendaraan lain sebab sudah menjadi tradisi setempat. Bukankah ini salah satu sampel tradisi yang menyehatkan?
Langkah selanjutnya, saya mencari informasi mengenai tempat-tempat kursus yang bagus. Di Pare, ada ratusan tempat kursus bahasa Inggris. Selain Bahasa Inggris, ada juga beberapa tempat yang menawarkan kursus bahasa Arab, tapi sedikit sekali. Kualitas dan branding tempat kursus di Pare berbeda-beda. Ada tempat kursus yang terkenal dengan 'pronunciation'-nya. Ada yang terkenal dengan 'grammar'-nya, 'speaking'-nya, dan seterusnya. Kursus bahasa Inggris di Pare memang cukup detail. Kalau di Jogja saya mengambil general course sudah meliputi setidaknya 'grammar' dan 'speaking', di Pare tiap ketrampilan dibedakan kelasnya. Tidak hanya itu, tingkatnya pun cukup banyak (grammar 1-6 misalnya). Anda tinggal memilih sesuai minat dan kebutuhan (pronunciation, speaking, grammar, translation, writing, dan TOEFL). Oya, jangan terkejut oleh harga-harga yang ditawarkan. Ratusan tempat kursus itu memang saling bersaing, tarifnya pun menjadi murah, rata-rata kurang dari 100 ribu/kursus satu bulan). Saya sendiri, karena tujuan ke Pare lebih cenderung berlibur daripada belajar bahasa, hanya mengambil dua kursus saja, yakni pronunciation dan translation.

Setelah itu, hari-hari di Pare pun dimulai. Tiap pagi saya belajar pronunciation bersama 'mister dan miss' (sebutan bagi tentor di Pare) di lembaga kursus ACCESS. Mister dan miss pengajar itu masih ABG, suasana belajarnya pun rileks seperti berkomunikasi dengan kawan sendiri. Namun, meski masih ABG, kemampuan mereka tidak bisa disepelekan. Itulah keunggulan Pare, tidak melihat seorang pengajar dari segi usia atau jenjang pendidikan, tapi dari segi kemampuan itu sendiri. Dengan begitu, jangan heran kalau Anda diajar oleh orang yang jauh lebih muda, hehe 'kebo nusu gudel' dong! Setelah kursus pronunciation, ada waktu luang buat saya untuk jalan-jalan dan istirahat. Sorenya, saya baru mengikuti kelas translation di Elfast. Untuk kursus translation tidak bisa sesantai pronunciation, bahkan bisa dibilang sangat serius sebab materi yang dipelajari memang lebih rumit. Ternyata Pare punya sistem pembelajaran sendiri. Idealnya saya mengambil grammar tingkat lanjut dulu baru translation, dan setelah translation baru tahap writing. Namun berhubung saya hanya berlibur sebulan, ya sudah langsung ambil translation. Ya, memang berbeda dengan sistem pembelajaran bahasa Inggris di luar. Rata-rata Pare lebih "njlimet" bagi saya.

Wah, lumayan panjang juga ya apa yang sudah saya ceritakan. Singkat cerita, di Pare, saya tak hanya menikmati suasana kampung bahasa dan sepeda, tapi juga pertemanan dengan kawan-kawan dari seluruh Nusantara. Ada kawan yang berasal dari Aceh, ada juga dari Makasar. Rata-rata mereka mahasiswa dan pelajar. Berteman di Pare, kita tak menyoalkan status atau identitas di luar. Mereka rata-rata cuek dengan "siapa kamu" dan lebih peduli dengan "dari mana kamu". Oleh karena itu, tak jarang mereka mengganti nama asli atau tempat asal untuk iseng menjadi orang lain sebelum akhirnya ketahuan, hehe.. Hal ini saya temukan pada salah seorang penulis terkenal yang bukunya best-seller di Jakarta, hahaha.
Ah, Pare dan kawan-kawan, saya ingat ketika berada di dalam bus menuju Jogja, beberapa kawan "semeja makan" di Pare rame-rame menelpon dan menyanyikan lagu Geby yang saat itu sedang booming: "jauh kau pergi meninggalkan diriku.. disini aku merindukan dirimu.. kini kucoba mencari penggantimu.. namun tak lagi kan seperti dirimu oh temanku..". Saya terharu hingga menangis sepanjang perjalanan pulang. And now, I wanna sing it again for you, my sweet Pare. Just so you know, it'll always be a sweet moment for us.
(*foto buah pare diambil dari http://community.kompas.com/photo/image/1pare1.jpg dengan crop)
Monday, September 14, 2009
Girl Interrupted: Sebuah Film dan Sebuah Pertanyaan tentang Kegilaan

Have you ever confused a dream with life? Or stolen something when you have the cash? Have you ever been blue? Or thought your train moving while sitting still?
Kalimat ironik itu dilontarkan sebagai pembuka film yang bercerita tentang kegilaan dan rumah sakit jiwa. Adegan dalam film ini diambil dari kisah nyata penulis muda, Susanna Keysen, yang dianggap gila dan harus menjalani sebagian masa mudanya di rumah sakit jiwa. Anda sudah menyaksikan? Atau tertarik buat mengikuti kisahnya lebih lanjut?
Lhokseumawe dan Segulung Telur Cuma-cuma

Apa kabar Lhokseumawe? Apa kabar suami-istri penjual telur gulung dan abang penjual jagung manis madu di Reuleut? Apa kabar es kelapa nipis dan rujak bumbu kacang di Ujong Blang? Baru satu setengah bulan lalu mengunjunginya, rasanya sudah ingin kembali ke sana.
Ya, Aceh adalah kota impian saya sejak SMA. Berawal dari sebuah film dokumenter selepas tsunami, bukan karena rasa kasihan terhadap musibah itu, cinta saya pada Aceh tumbuh tersebab keindahan seni dan budayanya. Dan itu salah satu faktor saja, faktor yang lain sangat magis, hampir tak bisa dijelaskan. Barangkali seperti seseorang jatuh cinta pada lawan jenis, kelebihan-kelebihan yang dimiliki orang itu hanya salah satu faktor saja, selebihnya itulah keajaiban, bukan begitu?
Awal cerita, seorang kawan menawari untuk bergabung ke dalam sebuah tim yang akan diikutkan lomba di Aceh. Wah, tentu tak disangka akan ke Aceh dengan cara demikian. Saya ambil tawaran itu betapapun saat itu tengah disibukkan oleh kegiatan KKN. Tak usahlah membahas lomba sebab yang berkesan di hati saya bukan perlombaan itu melainkan Lhokseumawe itu sendiri.
Kami berangkat dari bandara Soekarno-Hatta menuju bandara Polonia Medan. Dari Medan, kami naik bus menuju Lhokseumawe. Jujur saja, keadaan saya saat itu sedang kurang menyenangkan. Lemas sudah seluruh badan karena perjalanan sebelumnya dari Jogja ke Jakarta menggunakan kereta ekonomi yang berdesak-desakan. Namun, selemas apapun, saya berusaha stand-by melihat pemandangan dari jendela. Kesan pertama melihat Medan cukup ramai dan megah. Ada juga gereja-gereja indah yang tak saya ingat namanya. Lalu becak motor yang beredar di sana mengingatkan saya pada becak motor Aceh yang saya lihat di film dokumenter, Anda pernah melihat bahkan mencobanya? Menarik dan “sesuai syariah” bisik kawan di sebelah saya, hehe..
Mendapat kabar bahwa perjalanan dari Medan ke Lhokseumawe akan memakan waktu sekitar tujuh jam, saya memutuskan untuk menuruti rasa kantuk itu. Lagi pula perut sudah lumayan mual untuk tetap bertahan (bus-nya kencang sekali, Kawan, padahal jalannya berkelok-kelok, hmm..). Sampai di pom bensin, saya dibangunkan oleh suara tinggi bapak pengamen yang langsung mengingatkan saya pada suara Rafly Kande yang powerful dan “khas Aceh”. Saya kira sudah sampai Aceh…
Tak lama kemudian, kami memasuki Langkat . Sepanjang jalan saya melihat kebun kelapa sawit yang luas dan rapat seperti melihat kebun salak di kota saya. Terlihat pula rumah-rumah penduduk di pinggir jalan yang membuat saya bertanya-tanya. Di pinggir jalan raya begini masih menyimpan suasana perkampungan? Rumah-rumah kayu kecil dengan pelataran tanah kosong, lalu orang-orang duduk di bangku depan rumahnya, dan anak-anak bermain tali, sungguh alami seolah tak terganggu ramainya jalan raya. Inikah Aceh yang sesungguhnya, batin saya.
Bus terus melaju kencang. Sorenya, saat perut yang mual sudah demikian kosong sebab tak terisi apa-apa sejak semalam, kami akhirnya diturunkan di sebuah rumah makan. Siap-siap makan pedas, bisik saya dalam hati. Namun, saat sudah berhadapan langsung dengan aneka menu, rupanya masakan Aceh itu sudah disesuaikan dengan lidah kami. Kuah santan yang disajikan tak seberapa pedas. Wuiih, padahal kalau bisa justru ingin rasanya menikmati yang asli, hehe..
Kenyang dengan aneka seafood bersantan, kami melanjutkan perjalanan. Jam demi jam hingga sampai Reuleut, Lhokseumawe. Kami memasuki perumahan bukit indah milik Universitas Malikussaleh. Tahukah Anda, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 18.00 tapi langit masih terang seolah pukul lima sore, kami pun merasa waktu akan lebih panjang, hmm.. Dan yang paling menarik, kami disambut pelangi yang tampak dekat sekali. Wuuiih berapa lama tak lihat pelangi..? Sejak masih SD kah? Kami pun turun dan mengambil gambar berkali-kali.
Malamnya, tiba saat beristirahat di sebuah pondokan kecil yang cukup mewah tapi sayangnya kurang terawat. Ya, maklumlah, perumahan itu sudah bertahun-tahun tak digunakan, tepatnya sejak pecah perang GAM. Hasilnya nyamuk-nyamuk gajah jumlahnya melimpah, hiks. Saya sendiri waktu itu agak kesulitan beradaptasi karena udara Lhokseumawe panas sekali. Kipas angin sudah disetel paling kencang, tapi keringat tetap bercucuran. Padahal, di Jogja saya tak pernah tidur dengan kipas angin menyala dan selalu memakai selimut. Oh…, rasanya ingin lepas semua baju kala itu, haha, tentu saja tak bisa dilakukan.
Hmm, rasanya akan sangat panjang jika saya ceritakan semuanya secara detail. Banyak memang yang membuat rindu dan tak terlupakan. Saya ingat sebuah padang ilalang di belakang pondokan yang mengenangkan saya pada film-film klasik Barat seperti Pride and Prejudice. Ya, ada sensasi tersendiri kala berjalan melewati ilalang-ilalang itu. Lebih-lebih di perbukitan yang masih begitu alami. Percaya atau tidak, saya pernah sekali memergoki seekor monyet berbulu tebal di sana. Sayang tak sempat ambil gambarnya dan justru lekas-lekas menyingkir karena khawatir monyetnya galak, hehe..
Ingat juga saya pada kambing-kambing dan sapi-sapi yang berkeliaran di pinggir jalan dan sekitar kampus. Ya, kalau di Jogja ibaratkan Anda melihat ayam-ayam dan menthok di sekitar rumah (itupun mungkin di pedesaan). Saking jarangnya melihat pemandangan itu, kawan saya sempat heboh kala berada di lantai 2 kampus Malikussaleh. Dia teriak-teriak manggil saya cuma buat menunjukkan adegan gerombolan sapi yang berlarian dihalau bapak-bapak, “kayak acara discovery ya!” serunya.
Ada juga orang-orang yang saya rindukan sampai sekarang. Sore itu, setelah upacara penutupan acara lomba, saya dan beberapa kawan tertarik untuk beli makanan yang belum pernah kami temui di Jogja. Melihat suami-istri sedang menggoreng bakso balut tepung dan telur gulung, tanpa pikir panjang, saya ajak kawan-kawan mencobanya. Awalnya cuma tertarik pada bakso balut tepung yang digoreng oleh si bapak. Tapi, sembari menunggu kawan-kawan yang antri, tertarik juga saya pada makanan yang sedang digoreng oleh si ibuk—istrinya. Saya tanya, “apa ini, Buk?”. Si ibuk jawab, “ini telur gulung”. “Berapa?” tanya saya lagi. “Sudah, ambil saja, Neng, gratis” kata si bapak. Dan si ibuk pun menyodori saya telur gulung itu. Tak cuma saya, semua kawan yang beli di sana pun diberi telur gulung secara cuma-cuma. Wah, ini dagang apa bagi-bagi makanan ya? Kami pun tersenyum dan saling pandang. Teurimong geunaseh ya, Pak, Buk. Dalam hati saya harap suami-istri yang pemurah ini akan semakin mudah rejekinya.
Ada lagi yang saya rindukan, yakni abang penjual jagung manis madu, nenek berkacamata, dan ibu penggendong anak kecil. Semuanya saya temui di malam pentas seni Islami Aceh.
Malam itu, di lapangan kampus Malikussaleh, ratusan orang sudah memenuhi muka panggung hendak menonton pertunjukan seni dan budaya Aceh. Tak ketinggalan para pedagang makanan dan minuman turut memeriahkan suasana. Saya yang gemar makan jagung langsung tertarik pada menu jagung rebus manis madu di antara menu jagung lainnya, Anda pernah mencicipi? Saya lihat, penjualnya juga cukup atraktif menawarkan pada calon pembeli. Giliran saya, si abang tanya beli berapa. Dan tidak cuma itu, kami sempat bercakap sedikit-sedikit seperti bukan orang asing. Dan giliran ia tanya tempat tinggal saya, ia bilang “o.., saya kira orang Aceh..”. Hahaha, saya jadi ingin makan jagung manis madu lagi.
Lain halnya dengan nenek berkacamata. Waktu kami duduk di atas koran menikmati jagung manis madu sembari nonton tari-tarian Aceh, seorang nenek atau tepatnya ibu tua duduk dan menyapa kami. Ia duduk di sebelah kawan saya. Dan ketika tahu bahwa kami bukan dari Aceh, si nenek pun bercerita tentang kampung halaman dan masa lalunya. Bahwa malam-malam seperti ini belumlah lama bisa ia nikmati. Dulu-dulu, hampir tiap malam mereka harus sembunyi di dalam rumah sebab terjadi perang. Begitu miris saya mendengarnya. Bahwa perdamaian selepas tsunami ini sungguh menjadi anugerah yang luar biasa bagi penduduk biasa lebih-lebih seseorang yang telah tua seperti beliau. Tampak sekali dari raut wajahnya rasa syukur sebab di masa tuanya, ia masih bisa menikmati suasa damai yang wajar dan seharusnya. Selesai acara pentas pun, si nenek tak begitu saja pergi, ia menawari kami untuk mampir ke rumahnya. Kami sangat berterimakasih meski tak bisa memenuhi undangannya.
Malam pun larut. Satu lagi yang saya temui dan rindukan, seorang ibu penggendong anak kecil. Malam itu, sebelum pulang, saya dan kawan saya duduk menunggu jemputan di belakang panggung yang lumayan sepi. Tiba-tiba, lewat satu-dua orang hendak pulang, dan terakhir seorang ibu penggendong anak kecil itu. Saya tersenyum padanya. Dan ia berhenti menyapa saya dengan beberapa pertanyaan dalam bahasa Aceh. Karena tidak mengerti artinya, saya pun tersenyum dan bilang, “maaf, Buk, kami dari Jogja.” Lalu si ibu pun tersenyum agak berpikir. Dalam hati saya bertanya-tanya, apa iya Jogja kota yang cukup dikenal? Hehe.. Lalu si ibu pun akhirnya tersenyum saja memandang kami dan berucap “mari…”. Aku tak bisa melupakannya dan hanya mengira-ira barangkali maksud beliau tadi mengajak kami pulang bersama.
Ah, Lhokseumawe, terlalu banyak kenangan manis yang ia berikan. Kami mengakhiri kedatangan kami dengan berkunjung ke pantai Ujong Blang. Beberapa kawan tertarik memungut batu-batu cantik warna-warni untuk dibawa pulang. Ada sebuah cerita menjengkelkan ketika kami haus dan ingin beli minum di sebuah warung. Seorang kawan tanya saya mau pesan apa. Saya bilang es kelapa muda (sebab sebelumnya saya sudah lihat kelapa-kelapa muda ditumpuk di depan warung). Kawan saya pun beranjak mendatangi penjualnya dan bilang, “Buk, beli es degan dua”. Dan setelahnya, kawan itu menghampiri saya dan bilang “Mbak, gak ada tuh es degannya.”. Saya pun kaget dan heran, “nggak mungkin lah, wong tadi aku lihat.”. Lalu kawan saya balik lagi dan tanya, “es degan-nya ada, Buk?”. Sebentar kemudian dia kembali lagi pada saya, “beneran, mbak, gak ada…”. Saya yang agak jengkel pun langsung menghampiri penjualnya, “Buk, ada es kelapa muda?”. Dan si ibuk pun bilang ada dan mau pesan berapa. Hahaha, dengan muka jengkel saya pandangi kawan saya, “di sini memang gak ada es degan, sayang, adanya es kelapa muda…”. Kawan saya pun cengar-cengir lalu ketawa menyadarinya. (maklum, es kelapa muda di tempat kami lebih dikenal dengan sebutan es degan). Oya, Anda boleh coba es kelapa muda di Ujong Blang sebab rasanya memang beda. Biasanya, es kelapa muda tinggal diberi gula atau sirup sudah jadi. Di sana, es kelapa muda juga ditetesi jeruk nipis dan entah apa lagi yang membuat rasanya semakin maknyus tanpa menghilangkan rasa air kelapa itu sendiri. Selain itu, Anda juga bisa menikmati rujak bumbu kacang yang manis, asam, dan pedasnya sama-sama nendang.
Hmm.., Ujong Blang adalah tempat terakhir yang kami kunjungi di Lhokseumawe, selain makam Malikussaleh dan putrinya. Maklum, waktu kami tak banyak, dan lokasi pondokan serta sistem kegiatan tak banyak memberi kemungkinan untuk jalan-jalan. Sayang.
Kenikmatan terakhir yang saya dapatkan di Lhokseumawe adalah panorama sepanjang perjalanan pulang. Beruntung saya dapat tempat duduk tepat di belakang pak sopir, VIP kata kawan saya. Dari sana, saya bisa melihat apa saja yang indah dan nyaris tak sedikitpun tidur hingga sampai Medan. Saya tak akan lupa masjid-masjid berkubah besar nan indah yang banyak ditemui di pinggir jalan. Juga rawa atau danau-danau kecil tiap melewati jembatan. I miss you, Lhokseumawe.
Sunday, July 23, 2006
Puisi-puisi Retnois
MERAH HIDUP DAN MERAH WAKTU
Kepada Iwan Simatupang
Merahnya merah
nyala hati dan darah
persetubuhan bintang dan telaga
daging basah dan cinta
ia menyeruak
menyiram buah para penyair
bulat tomat dan sipu-sipu apel
mawar yang dalam buat kekasih
Merah kelahiran tubuh
bernyanyi lewat paras muda,
merona-rona seperti anggur mabuk
dan malam yang tinggi menjerembabkannya
jauh ke dalam pipi tua
merah waktu
mungkin kau terjerembab di lobang itu
mendekap cepat pergi istrimu
dan lambat filsafat hidup
Merah pun membakari kayu
menyalakan tungku tua kesepianmu
yang tak lagi didengar siapa-siapa
tak ada ziarah kecuali kata
mereka membakar dirinya
seperti membakar waktu
Merah mengintai sepanjang mata
menggelandang di bawah kakimu
garis-garis tanah
seperti pahatan umur yang kaku
mereka terseret dan pulang
menjadi abu di lautan
tapi merahnya merah menunggu di balik pintuku
dicari-carinya sumbu
antara mata dan jantungku
2008
Retno Iswandari
BARANGKALI CINTA
Barangkali cinta
menyimpan putaran planet-planet sendiri
dalam sanubari tanpa tepi
dan kiamat tak tercatat
dalam kitab manapun yang tersuci
Barangkali cinta
tak memerlukan matahari
ia nyalakan segalanya, ia nyalakan
melampaui tatapan
melampaui ukuran
Jika bintang berpijar bagi mata
dan kita menyebutnya nyata
selamanya tak ada baginya
dan pada bahasa kita sebut ia
Barangkali ruhnya melayang-layang
mengitari nama-nama yang kita berikan
O, Yang maha cinta
seperti apakah kemolekan
dalam perwujudan dunianya
Barangkali ia lebih hidup dari pertanyaan
dan barangkali juga
mematikan
Saturday, July 01, 2006
Song Lyrics (KANDE featuring Rafly) 'The Fighting Spirit'
You know, it was so so difficult to find KANDE's -a famous group band in Acheh- songs. I tried to find their songs in the internet, but I get nothing. Then I walked around Jogjakarta, looking for the CD/cassette, till I knew that it's only sold in Acheh. So many days, some weeks even months, I'd spent. Till one day, my friend gave me her friend's -a Javanese woman working in Acheh- phone number. And she kindly sent me three cassettes from Acheh: one cassette of KANDE's album and two cassettes of Rafly's solo album. Wonderful..!! After that, I luckily became acquainted with Gadjah Mada University student from Acheh. He gave me the video CD of KANDE featuring Rafly. How happy, lucky, I was! Thanks, God!
Well, although I'm not Achehnese, I'm very proud of Achehnese art. KANDE featuring Rafly's heroic vocal successfully produces a very impressive album, 'The Fighting Spirit'. KANDE (Chairiyan, Papi, Puput, Munzir, Ian, Kiki, Amir, Alol, Joel) performed a "unique music", collaborate Acheh traditional music instruments with modern music instruments. I bet you will =) hunt some out, and here are the lyrics...
KANDE featuring Rafly
ASAI NANGGROE
Asai Nanggroe bak rimba Tuhan
Huteun beuraleun, ha na manusia, eee..haa…
Teuka indatu meusosah pa yah
Rimba le geucah geu ilah idah daya
Geupeuna tanoh blang bak geumeugoe, hai..ya…
Geupuga gampong bak geumeu nanggroe, eee..raja…
Geupeugeut rumoh bak geupeu niyoh
Lak nak bek ngak bek payah eh cong bak kayee kayee raya
Ueeeehhh!
Geukeubah nanggroe kaseup meusaneut
Goet that neu duk, ngoen meseu nia, eee..haa…
Keu aneuk cucoe pusaka geu pulang
Geupupah ban, geu padu padu bawa
Geupeureunoe meugoe ngoen meukat, ho..do…/hai..yaa…
Bak hareukat, peukan geupeuna, eee..raja…
Geukebah ceng ngoen geuteu mimang
Hai paneuk…!
Paneuk ngoen panyang si nipat nipat kana
KANDE featuring Rafly
SEULANGA
Na bungong… seulanga keumang
Saboh bak tangke
Meu bhe harom hai sayang di dalam taman
Tatem be tatem sibu, bungong ngak luhu
Tatem be tatem sibu, bungong ngak luhu
Oh, ka kalayee tho krang seulanga nyan
Gadoh mangat bhe
Oh, ka kalayee tho krang seulanga nyan
Gadoh mangat bhe
Wahe bungong… cedah ha na ban
Tamse nyak dara nyang canden rupa
Diteuka bana dijak peu ayang
Ureu ngen malam bungong didoda
Sayang sayang leupah that sayang
Oh troh bak wate bungong pih mala
Kahabeh duroh bak tangke leukang
Keubit that sayang nasep seulanga…
KANDE featuring Rafly
PEUSAPEUE PADAN
Lon lakee Du’a… bak Tuhan sidroe
Neu brie beu sampoe
Lage neulaya
Beu meu sajan lako… lako ngeon bino
Ban ngeon Nabi Adam… ngeon Siti Hawa
Beu saho woe… beu sapeu sapeu pajoh
Beu sabe bungkoh… beu si on eungka
A te beu saboh… pi ke beu saban
Beu sapeu padan… beu saban kada
Udep uroenyoe, pike ke singoeh
Bek sampoe meh moh, bak aneuk cucoe
Geu sudi singoeh oeh uroe dudoe
Geutanyoeng le poe U yaumil masya
Geot tapeubeut, geut beunalah
Yang geot ta keubat keu aneuk cucoe
Menyoe han tingai meu baii nah
Pane na leu mah geutanyoe awai na…
(teurimong geunaseh kepada Kawan dari Aceh yang telah rela meminjamkan rekaman vi-klip KANDE-nya =)
Thursday, January 19, 2006
SAJAK-SAJAK PUTRA ACEH (Selepas Tsunami)
Sajak
Fikar W. Eda
NYERI ACEH
Tanah Aceh, nyeri kami
nyeri daging dan tulang kami
nyeri darah dan tangis kami
nyeri gigil
nyeri perih
nyeri kami
inilah nyeri kami
nyeri laut menggulung pantai
lumatlah rumah,
remuklah pohon
dan tubuh kami, tubuh kami
bercecer di himpitan pohon itu
hanyut bersama papan berlumut
mengapung di jembatan roboh
nyelinap di selokan
terdampar di trotoar basah
tersangkut pada ranting-ranting beku
Tanah Serambi Mekkah, nyeri kami
nyeri daging dan tulang kami
nyeri darah dan tangis kami
nyeri gigil
nyeri perih
nyeri kami
inilah nyeri kami
bocah bocah polos
berlari di pasir
menangkapi ikan-ikan terdampar
ketika laut surut
gemuruh menerbangkan pasir
langit gelap
ombak membentuk lipatan
menerjang dari arah belakang
tubuh rapuh tersentak ke depan
membentur beton-beton
terdorong ribuan meter
bocah-bocah itu
bagai kapas terlilit gulungan laut
terdampar di tanah datar
menghapus jejak-jejak pasir
lenyaplah tawa
raiblah canda
nestapa Aceh dalam nyeri dan perih kami
jangan kalian cari lagi Meulaboh
jangan kalian tanya dimana Banda Aceh
dimana Calang, Teunom, Lamno, Lhokseumawe,
Bireun, Sigli
peta-peta telah koyak
terlipat dalam gulungan laut
Ya Allah
rebahkanlah mereka
bocah-bocah itu
orang-orang tua itu
laki-laki dan perempuan itu
di atas permadani-Mu yang harum
tempatkanlah mereka pada
sisi-Mu yang maha mulia
dan kepada kami, ya Allah
berilah kekuatan
menanggung perih ini
menjadikannya cermin
tempat kami memungut hikmah
Desember 2004
(puisi tersebut dimuat dalam antologi puisi MAHA DUKA ACEH)
Sajak
Azhari
Ibuku Bersayap Merah
Ibu, Abah dan Dik Nong
setelah bala aku pulang ingin melihat
kalian dan kampung
kukira 26 Desember cuma mimpi buruk
tapi tak kutemukan kalian di sana,
juga Arif kecil yang cerewet
seperti kalian, kampung kita ternyata sudah tiada
berubah menjadi laut yang raya
lihat Ibu dan bangau putih
berdiri dengan sebelah kaki di bekas kamarmu
bangau itu tak bersayap merah
seperti dulu pernah kau ceritakan padaku
karena aku tahu bangau itu telah memberikan sayap
merahnya buatmu
agar kau peluk Abah dan Dik Nong ke dalamnya
Banda Aceh, 2005
(puisi tersebut dimuat dalam antologi puisi MAHA DUKA ACEH)
Sajak
Reza Idria
Kepada Azhari
Kawan, naga itu menggeliat sudah
mengaum merah memerahkan peta
kita lalai melenakannya dengan irama
zikir dan dalae di meunasah-meunasah
kau, aku dan mereka semua
hanya nganga duka yang punya
sejauh tangkapan mata
hanya puing poranda, jasad-jasad tanpa nyawa
kawan, ini musim naga
serupa yang kau ceritakan dalam serita
dan “Nuh” yang kau reka
terlalu sunyi, gugup dan tersesat
terlambat mengabarkan akan datangnya air raya
dari laut yang surut
kulihat orang-orang tercinta kita
beriring bergandengan, mereka bergumam
“naga hanya menggeliat belum terjaga
buat dia kembali terlena”
(puisi tersebut dimuat dalam antologi puisi MAHA DUKA ACEH)
Sajak
Mustafa Ismail
Ulee Lheue
aku membangunkanmu pagi itu, dengan ketap mulut
kau bergegas menyibak subuh dan langit yang masih coklat
kita menghitung jejak, hingga pantai itu
aku tak ingat, kapan kita mulai menulis pada sebuah buku
menjadi rangkaian kata, cerita, berlompatan bagai biji hujan
menjelma laut tempat bersampan
aku pun tak ingat, kapan siang berganti, dan malam merayap
di lorong-lorong yang kerap kita lalui
tiba-tiba langit sudah gelap dan kau telah jauh
aku ingin kembali membangunkanmu pada satu pagi
kau bergegas menyibak subuh dan langit yang masih coklat
kita mengutip jejak, hingga pantai itu.
Pamulang, Desember 2005
(puisi tersebut dimuat dalam harian KOMPAS 2006)
Sajak
Wiratmadinata
Cermin Nuh
Lihatlah Nuh yang telah jauh berlayar
Dan kita masih berpesta di daratan lupa ini.
Bergegaslah memenggil Nuh-mu
Sebelum pasang air, sebelum beku waktu
Dan tangan Nuh tak akan tergapai lagi.
Lihatlah Nuh yang telah meninggalkan tanah
Dan memilih langit biru lazuardi
Tinggal kita dikungkung gulita abadi.
Saat Nuh telah berlayar,
Lalu pasang air,
Lalu beku waktu,
Tangan tak gapai lagi.
26 Desember 2004
(puisi tersebut dimuat dalam antologi puisi MAHA DUKA ACEH)
Thursday, January 05, 2006
LAGU-LAGU DAERAH DI INDONESIA
-Do you want to sing Indonesian traditional songs?
Here these are…-
Lagu Daerah Nangroe Aceh:
Bungong Jeumpa
Bungong jeumpa bungong jeumpa megah di Aceh
Bungong telebeh, telebeh indah lagoina
Puteh kuneng mejampu mirah
Keumang siulah cidah that rupa
Lam sinar buleun lam sinar buleun angen peu ayon
Ru roh mesuson mesuson, nyang malamala
Mangat that mebe’i menyo ta thim com
Lepah that harum si bungong jeumpa
Lagu Daerah Tapanuli:
Sinanggar Tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Tu di a ma lu lu an
Da goreng goreng ba hen so ban sa
i tu di a ma lu lu an
Da
Sinanggar tullo tullo a tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Sinanggar tullo tullo a tullo
Bidang bulung nirimbang
Da bidangan balung ni du lang sa
i pandokonni da i nang
Da
Lagu Daerah Sumatera Barat:
Kampuang Nan Jauh Di Mato
Kampuang nan jauh di mato
Gunung sansai bakuliliang
Takana jo kawan kawan nan lamo
Sangkek basuliangsuliang
Panduduknyo nan elok
Nan suko bagotong royong
Kok susah samo samo diraso
Den takana jo kampuang
Takana jo kampuang
Induk ayah adiak sadonyo
Raso mangimbaungimbau den pulang
Den takana jo kampuang
Lagu Daerah Riau:
Soleram
Soleram Soleram
Soleram anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merahlah pipinya
Satu dua tiga dan empat
Lima enam tujuh delapan
Kalau tuan dapat kawan baru sayang
Kawan lama ditinggalkan jangan
Lagu Daerah Jakarta:
Kicir-Kicir
Kicir kicir ini lagunya
Lagu lama ya tuan dari Jakarta
Saya menyanyi ya tuan memang sengaja
Untuk menghibur menghibur hati nan duka
Burung dara burung merpati
Terbang cepat ya tuan tiada tara
Bilalah kita ya tuan suka menyanyi
badanlah sehat ya tuan hati gembira
Buah mangga enak rasanya
Si manalagi ya tuan paling ternama
Siapa saya ya tuan rajin bekerja
pasti menjadi menjadi warga berguna
Lagu Daerah Jawa Barat:
Manuk Dadali
Mesatngapungluhur jauh di awang awang
Meberkeunjanjangna bangun taya karingrang
Kukuna ranggaos reujeungpamatukna ngeluk
Ngepak mega bari hiberna tarik nyuruwuk
Saha anu bisa nyusul kana tandangna
gadangjeungpartentang taya badingan nana
Dipikagimir dipikaserab ku sasama
Taya karempan ka sieun leber wawanenna
Manuk dadali manuk panggagahna
Perlambang sakti Indonesia jaya
Manuk dadali pang kakoncarana
Resep ngahiji rukun sakabehna
Hirup sauyunan tara pahirihiri
Silih pikanyaah teu inggis bela pati
Manuk dadali gadung siloka sinatria
Keur sukamna bangsa di nagara Indonesia
Lagu Daerah Jawa Tengah:
Lir Ilir
Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
Dondomana j’rumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun suraka surak hiyo
Lagu Daerah Yogyakarta:
Suwe Ora Jamu
Suwe ora jamu
Jamu godhong tela
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe gela
Suwe ora jamu
Jamu godhong tela
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe gela
Lagu Daerah Kalimantan Selatan:
Ampar-Ampar Pisang
Ampar-ampar pisang pisangku belum masak
Masak bigi dihurung dihurung bari bari
Masak bigi dihurung dihurung bari bari
Manggalepak manggalepok patah kayu bengkok
Bengkok dimakan api apinya clang curupan
Bengkok dimakan api apinya clang curupan
Nang mana batis kutung dikitipi dawang
Nang mana batis kutung dikitipi dawang
Lagu Daerah Sulawesi Utara:
Si Patokaan
Sayang sayang si patokaan
matego tego gorokan sayang
Sayang sayang si patokaan
matego tego gorokan sayang
Sako mangemo tanah man jauh
mangemo milei lek la ko sayang
Sako mangemo tanah man jauh
mangemo milei lek la ko sayang
Lagu Daerah Maluku:
Burung Tantina
Sio tantina burung tantina
mati dipanah Raja Nirwana
Sio tantina burung tantina
mati dipanah Raja Nirwana
Sakitnya bukan sakit penyakit
Khabarnya datang dari Sri Rama
Sakitnya bukan sakit penyakit
Khabarnya datang dari Sri Rama
Lagu Daerah Irian Jaya:
Yamko Rambe Yamko
Hee yamko rambe yamko aronawa kombe
Hee yamko rambe yamko aronawa kombe
Teemi nokibe kubano ko bombe ko
Yuma no bungo awe ade
Teemi nokibe kubano ko bombe ko
Yuma no bungo awe ade
Hongke hongke hongke riro
Hongke jombe jombe riro
Hongke hongke hongke riro
Hongke jombe jombe riro
-Thank you for singing-